Jumat, 16 Desember 2011

PENDIDIKAN TRANSFORMATIF


PENDIDIKAN TRANSFORMATIF                                                      
Oleh : Steven S. Tumiwa Hamka Hasan
Pendidikan Transformatik
1. Paradigma Pendidikan Transformatik
Keberadaan sebuah Negara secara keseluruhan merupakan sebuah hal yang patut untuk diapresiasi, hal ini dikarenakan negara sebagaimana banyak diketahui merupakan sebuah rumah yang bisa mendidik warganya untuk mandiri dan mampu menyelesaikan masalahnya. Karena itu amatlah sangat tidak mungkin jika keberadaan sebuah negara menegaskan muatan pendidikan dalam salah satu program pengembangan sumber daya manusianya. Dilandasi oleh hal tersebut, pendidikan merupakan sebuah hal yang sangat niscaya untuk diterapkan dalam sebuah negara.
Sejalan dengan semangat tersebut, pendidikan yang diterapkan dalam sebuah Negara tentunya memiliki semangat orientasi tersendiri. Ini dikarenakan, system pendidikan yang dibangun tentunya merupakan alat penyadaran atau kampanye dari nilai-nilai ideologis yang ingin diterapkan oleh pemerintah terhadap warga negaranya. Kecenderungan tersebut pada prosesnya sering mengiring pendidikan untuk menjadi tidak otonom, dalam makna pendidikan ada karena adanya kepentingan ideologis dari penguasa sebuah negara. Berkaitan dengan hal tersebut, maka orientasi pendidikan yang selama ini dijalankan dalam sebuah negara sangat mustahil memiliki pandangan yang berbeda dengan pandangan ideology negara tersebut. Kondisi seperti ini pada akhirnya akan membawa pada praktek yang sangat mengenaskan untuk pengembangan sumber daya manusianya karenanya hal ini banyak membuat gerah beberapa tokoh pemikir filsafat pendidikan, seperti Paulo Freire yang dengan tegas mengeluarkan teori pendidikan transformatif untuk menjawab tantangan zaman yang selalu mengalami perubahan.
Selain itu, masuknya paradigma positivism-logis yang disodorkan oleh para ilmuan barat ditengarai juga membawa dampak yang sangat krusial terhadap perkembangan teori pendidikan. Paradigma positivism-logis telah mempengaruhi pola kebijakan politik pendidikan sebuah negara untuk mengejar atau menggunakan tradisi science sebagai landasan kemajuan pengetahuan dalam system pendidikannya, walhasil kekritisan warga negara dalam menganalisa problem sosial budaya tak nampak kepermukaan. Paradigma ini mengantarkan aspek kritis hilang karena pengetahuan ataupun pendidikan dianggap sebagai sebuah hal yang objektif tanpa ada kepentingan. Hal ini sering terjadi pada negara-negara dunia ketiga atau yang lebih kita kenal sebagai negara poskolonial. Problem seperti inilah yang lantas mengantarkan Edward Said untuk merumuskan system pemikiran yang menolak paradigma positivism-logis yang dikonstrukan dalam paradigma pendidikan pada negara-negara dunia ketiga. System pendidikan yang lantas ditawarkan adalah system pendidikan kritis yang berbasiskan teori poskolonial.Seperti yang telah disebutkan diatas, paradigma pendidikan yang sedang berlangsung di negara-negara dunia ketiga adalah paradigma pendidikan positivis-logis. Paradigma ini lantas mengkonstruk masyarakat dunia ketiga untuk menyamakan paradigmanya dalam merumuskan system pendidikan. System pendidikan yang kemudian dibangun adalah system pendidikan yang narsistik yaitu selalu mengedepankan barat sebagai ladang pengetahuan dengan corak liberalisme yang tidak lantas membebaskan individu dari belenggu ketertindasan moril dari kolonialisme yang sedang dilakukan tanpa sadar.
Proses kolonialisasi yang tanpa sadar seperti ini dilakukan dalam proses pendidikan, sehingga para peserta didik seolah merasakan hal itu sebagai sebuah hal yang wajar, akan tetapi hal tersebut terasa berbeda dalam perasaan Edward Said maupun Freire. Said melihat bahwa hal ini bukanlah sebagai suatu hal yang wajar karena pada prosesnya, warga negara yang berada dalam negara poskolonial atau rata-rata berada di timur, memiliki kondisi psikologis yang berbeda pula dari negara-negara dunia pertama, sehingga system atau paradigma pendidikannya pun haruslah berbeda ini dikarenakan jika paradigma pendidikan negara dunia pertama disamakan dengan negara dunia ketiga maka negara dunia ketiga tak akan pernah dapat membongkar praktek-praktek kolonialisasi terselubung dibalik muatan objektif pengetahuan yang diajarkan melalui jalur pendidikan.
Paradigma pendidikan yang dibawa oleh negara dunia pertama atau dalam hal ini barat merupakan sebuah alat atau senjata untuk melanggengkan kekuasannya di daerah-daerah dunia ketiga, dari hal ini bisa dilihat bahwa praktek kolonialisasi terus saja dilaksanakan. Menurut Said pendidikan ala barat merupakan sebuah konstruk wacana yang ingin diterapkan terhadap negara yang berbeda dengannya.Dari sini kita dapat melihat bahwa paradigma poskolonialis yang dikembangkan oleh Said bisa dijadikan alat untuk membongkar hegemoni dan dominasi paradigma positivis-logis gaya barat dalam membangun sebuah paradigma pendidikan yang baru. Belum tuntas sampai disini, teori poskolonial dari Edward Said sebenarnya ingin menegaskan bahwa konsep pendidikan yang ada haruslah mampu untuk melihat manusia sebagai manusia, hal ini dikarenakan bahwa paradigma pendidikan gaya barat yang berbasiskan positivism-logis selalu melihat warga negara dunia ketiga sebagai objek atau kelompok manusia yang berbeda dari konsep manusia yang tertanam dalam pikiran mereka. Said ingin menegaskan warga negara dunia oriental adalah subjek pengetahuan juga, mereka adalah manusia yang sama memiliki rasio.
Pola pikir poskolonialis yang coba diterapkan pada paradigma pendidikan tersebut mengantarkan kita pada pemahaman yang humanis dan juga kritis, dalam posisi ini sejalan dengan paradigma pendidikan transformatif dari Freire yang ingin memanusiakan manusia. Menurut Freire, dalam filsafat pendidikan transformatif, pembelajaran merupakan pembongkaran terhadap semua bentuk kesadaran budaya dalam rangka menumbuhkan kesadaran budaya yang baru yaitu budaya penghargaan terhadap kemanusiaan.Konsep Filsafat pendidikan Freire mempunyai visi yang filosofis yaitu manusia yang terbebaskan. Bagi Freire pendidikan merupakan sebuah alat untuk membebaskan manusia, karena pendidikan berpotensi untuk menyadarkan manusia dari belenggu-belenggu kepentingan yang menjadikannya terkurung dalam sekat-sekat kebodohan akibat adanya politik kepentingan. Paradigma pendidikan yang ditawarkan oleh Freire adalah sebuah kritik terhadap proses pendidikan yang mengenyampingkan peran pembebasan atau penghargaan terhadap unsur kemanusiaan.
Selanjutnya pada paradigma pendidikan liberal-positivism-logis gaya barat yang cenderung mengekang dan tidak humanis, paradigma pendidikan ala Freire bisa digunakan untuk media perlawanan. Paradigma pendidikan ala barat mempunyai kecenderungan untuk memisahkan peserta didik dengan realitas manusia yang sebenarnya sehingga peserta didik teralienasi dari realitas objektifnya, dari kondisi seperti ini akhirnya peserta didik tidak dapat memahami realitas atau dunia secara menyeluruh atau dengan kata lain pendidikan pada akhirnya hanya melahirnya pengetahuan sepihak, dan secara tak langsung peoses dehumanisasi dalam pendidikan terlaksanakan.Problematika dehumanisasi inilah yang ditentang dengan tegas oleh dua orang tersebut, pendidikan bukanlah alat yang akhirnya menjadikan manusia menjadi teralienasi dari kehidupannya, bukan menjadikan manusia menjadi teralienasi dari lingkungannya bukan pula menjadikan manusia teralienasi dari dirinya sendiri, melainkan menjadikan manusia sadar akan dirinya kehidupannya dan lingkungannya. Sehingga pendidikan adalah alat yang membebaskan keterkungkungan diri dari sekat politik kepentingan yang menekan lantas menjadikan manusia bijak dalam memaknai hidup.Proyek paradigma pendidikan yang ditawarkan oleh tokoh poskolonial dan tokoh transformatif merupakan sebuah respon terhadap kondisi pendidikan yang selama ini terjadi di negara-negara bekas koloni yang miskin ataupun negara-negara yang terbelakang. Ini dikarenakan pemasokan kesadaran yang diciptakan oleh paradigma liberal-positivism-logis telah banyak membunuh kreatifitas berpikir manusia. Hal inilah jika tidak ditanggapi secara serius diramalkan akan menimbulkan proses kolonialisme gaya baru.
Kondisi seperti inilah yang dengan tegas akan menciderai makna dan hakikat manusia. Karenanya perubahan corak atau paradigma pendidikan merupakan sebuah keharusan untuk merentas jalan menuju proses kehidupan manusia yang lebih baik guna menciptakan alam dunia yang ideal dan lebih bermakna, selain itu perubahan paradigma pendidikan akan menciptakan pola tatanan dunia baru yang lebih ramah, lebih humanis dan tentunya lebih demokratis karena terjadinya pluralitas perbedaan dalam paradigma atau corak pandang dalam memaknai system kehidupan.Potret pendidikan di Indonesia makin hari makin buram. Menurut penulis, ini disebabkan karena pendidikan di Indonesia menganut paradigma liberal. Dalam koridor paradigma ini pendidikan diabdikan bagi kepentingan ekonomi semata. Pendidikan tidak bertujuan untuk pembebasan kemanusiaan. Penulis menguraikan tiga paradigma pendidikan yang lazim berlaku: konservatif, liberal, kritik. Ketiganya membentuk corak kesadaran yang berbeda pula bagi peserta didik. Pendidikan konservatif menghasilkan kesadaran magis; pendididkan liberal menghasilkan kesadaran naif; sebaliknya, berbeda dengan dua paradigma sebelumnya, pendidikan kritik membentuk kesadaran kritis. Model pendidikan banking-yang ignoramus karena sekadar menumpuk pengetahuan nir diseminasi critical sense-, tak pelak menghadirkan sosok generasi yang buta akan penindasan. Kemacetan transformasi sosial dewasa ini, tak lain juga bermula dari pendidikan yang tidak transformatif tersebut.
Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan dan perubahan sosial adalah dua hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Suatu perubahan kiranya sulit akan terjadi tanpa diawali pendidikan, begitu pula pendidikan yang transformatif tak akan pula terwujud bila tidak didahului dengan perubahan, utamanya, paradigma yang mendasarinya. Bahkan, ada pula yang berpendapat bahwa menyebut perubahan sosial dan pendidikan yang transformatif ibarat menyebut sesuatu dalam satu tarikan nafas: pendidikan taranformatif adalah perubahan sosial dan perubahan sosial adalah pendidikan transformatif. Sungguhkah? Biar lebih jelas, mari kita uraikan bersama.Perubahan sosial tentu membutuhkan aktor-aktor yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, komitmen, serta kesadaran akan diri dan posisi strukturalnya. Untuk itu perlu tersedianya suatu media dimana ide-ide, nilai-nilai maupun ideologi, yang tentunya kontra ideologi hegemonik, ditransmisikan kepada para pelaku perubahan sosial.
Paulo Freire, pemikir dan aktivis Pendidikan Kritis, mempunyai pendapati cemerlang perihal pendidikan dan kaitannya dengan perubahan sosial1. Dalam bentuknya yang paling ideal, menurut Freire, pendidikan membangkitkan kesadaran (conscientizacao) diri manusia sebagai subjek. Dengan kesadaran sebagai subjek tersebut manusia dapat memerankan liberative action. Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Dengan kesadaran sosial yang dibangun diatas basis relasi intersubjektif rakyat dapat memainkan peranan dalam rekonstruksi tatanan sosial baru yang lebih demokratis. Tatanan sosial yang demokratis ini menurutnya kondusif bagi humanisme danpembebasan.
Beranjak dari signifikansi utama pendidikan diatas, tulisan ini disajikan dengan semangat untuk melakukan kritisasi terhadap dunia pendidikan, utamanya di Indonesia. Pengalaman sebagai peserta didik selama ini, baik secara sadar maupun tidak sengaja, telah memungkinkan saya ‘memergoki’ sejumlah persoalan yang meresahkan.Ya, siapa tahu dengan men-share deretan persoalan yang meresahkan tersebut, nantinya bisa menjadi pemantik diskusi yang tidak saja lebih komprehensif, namun juga kontributif bagi terwujudnya sistem pendidikan yang lebih baik atau bahkan ideal: membebaskan,kritis,sertatransformatif.
Secara konseptual, ada tiga paradigma pendidikan yang dapat memberi peta pemahaman mengenai paradigma apa yang menjadi pijakan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang berdampak sangat serius terhadap perubahan sosial.
Pertama, paradigma konservatif. Paradigma ini berangkat dari asumsi bahwa ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu keharusan alami, mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau takdir Tuhan. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara saja. Pada dasarnya masyarakat tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengarhui perubahan sosial, hanya Tuhan lah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dia yang tahu makna dibalik itu semua.
Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka. Mereka yang menderita, yakni orang orang miskin, buta huruf, kaum tertindas dan mereka yang dipenjara, menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Karena toh banyak orang yang bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Banyak orang bersekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh karenanya tidak dipenjara. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang, karena akhirnya semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan kelak. Paham konservatif hanya melihat pentingnya harmoni serta menghindarkan konflik dan kontradiksi.
Sebagian besar penyelenggaraan sekolah yang dikelola oleh kaum tradisionalis berangkat dari paradigma konservatif ini. Penyelenggaraan sekolah atau madrasah dalam perspektif dan paradigma konservatif memang terisolasi dari persoalan persoalan kelas maupun gender ataupun persoalan ketidak adilan di masyarakat. Kurikulum sekolah secara jelas bagi kaum konservatif juga tidak ada kaitannya dengan sistem dan struktur sosial diluar sekolah, seperti sistem kapitalisme yang tidak adil.
Kedua paradigma pendidikan Liberal. Kaum Liberal, mengakui bahwa memang ada masalah di masyarakat. Namun bagi mereka pendidikan sama sekali steril dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Tugas pendidikan cuma menyiapkan murid untuk masuk dalam sistem yang ada. Sistem diibaratkan sebuah tubuh manusia yang senantiasa berjalan harmonis dan penuh keteraturan (functionalism structural). Kalaupun terjadi distorsi maka yang perlu diperbaiki adalah individu yang menjadi bagian dari sistem dan bukan sistem. Pendidikan dalam perspektif liberal menjadi sarana untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar stabil dan berfungsi secara baik dimasyarakat. Oleh karena itu masalah perbaikan dalam dunia pendidikan bagi mereka sebatas usaha reformasi ‘kosmetik’ seperti perlunya: membangun gedung baru, memoderenkan sekolah; komputerisasi; menyehatkan rasio murid-guru, metode pengajaran yang effisien seperti dynamics group, learning by doing, experimental learning dan sebagainya. Hal-hal tersebut terisolasi dengan struktur kelas dan gender dalam masyarakat. Akar dari pendidikan semacam dapat ditelusuri dari pijakan filosofisnya yakni, paham liberalisme, suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta proses perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang.Paradigma terakhir adalah paradigma pendidikan kritis. Pendidikan bagi paradigma kritis merupakan arena perjuangan politik. Penganut paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam tatanan politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Dalam perspektif ini, pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala berpikir baik pendidik maupun peserta didik, menciptakan ruang bagi peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis diri dan struktur dunianya dalam rangka transformasi sosial.Perspektif ini tentu mempunyai beberapa syarat. Baik guru maupun peserta didik mesti berada dalam posisi yang egaliter dan tidak saling mensubordinasi. Masing-masing pihak, mesti berangkat dari pemahaman bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Sehingga yang perlu dilakukan adalah dialog, saling menawarkan apa yang mereka mengerti dan bukan menghafal, menumpuk pengetahuan namun terasing dari realitas sosial (banking system).
Tiga paradigma diatas masing-masing membawa dampak berupa karakter kesadaran manusia yang oleh Freire digolongkan menjadi tiga.Pertama kesadaran magis, yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistim politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketakberdayaan.
Dalam dunia pendidikan, jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah maka proses belajar mengajar tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai pendidikan fatalistik. Proses pendidikan lebih merupakan proses menirukan, dimana murid mengikuti secara buta perkataan dan pandangan guru. Proses pendidikan model ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistim dan struktur terhadap satu permasalahan masyarakat. Murid secara dogmatik menerima ‘kebenaran’ dari guru, tanpa ada mekanisme untuk memahami ‘makna’ ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan dan sekolah konservatif dapat dikatagorikan dalam kesadaran magis ini.
Kesadaran kedua adalah kesadaran naif. Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena ‘salah’ masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya ‘membangunan’, dan seterusnya. Oleh karena itu ‘man power development’ adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar, merupakan faktor ‘given’; dan oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut. Paradigma umat modernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dikatagorikan kedalam kesadaran naif ini.
Kesadaran ketiga disebut sebagai kesadaran Kritis. Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan sistim sosial, politik, ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaaan masyarakat. Paradigma kritis dalam pendidikan, melatih murid untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidakadilan’ dalam sistim dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistim dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Paradigma umat Islam transformatif yang menggunakan model pendidikan kritis dapat dikatagorikan kedalam kesadaran kritis.
2. Hasil Pendidikan Nasional dan Transformasi Sosial
Dari pemetaan diatas, sistem pendidikan di Indonesia selama ini masih jauh untuk dikategorikan sebagai pendidikan kritis. Dapat pula dikatakan, dalam taraf tertentu pendidikan kita justru terjebak dalam paradigma konservatif, meskipun kalau dilihat secara umum pendidikan nasional termasuk dalam penganut liberal. Ini ditandai mulai dari privatisasi pendidikan, model subjek-objek, serta orientasinya yang kental dengan ideologi kapitalisme.Dewasa ini, ketika dunia didera gelombang globalisasi, pendidikan kian bergeser dari status dan fungsi awalnya. Pendidikan mau tidak mau dipaksa tereduksi hanya sebagai komoditas dan harus terbingkai dalam logika pasar. Disatu sisi ia menjadi eksklusif dan tak terjangkau oleh kalangan bawah, sehingga darwinisme sosial7 pun sulit dielakkan berlaku. Sedang disisi lain visi dan misinya tidak keluar dari koridor ekonomi (menyiapkan peserta didik sebagai homo economicus semata). Peserta didik disibukkan oleh rutinitas studi-studi berdasarkan kurikulum yang juga terasing dari kehidupan sosial. Misalnya, ketika bicara sains dan teknologi, peserta didik digiring untuk memusatkan diri pada teknologi yang bias sektor urban. Misalnya, mesin-mesin industri berat dan bukan perihal teknologi tepat guna, yang murah, mudah dijalankan dan langsung memberi manfaat kepada masyarakat kecil.Lebih parah lagi, pendidikan kita sulit dibedakan dengan pelatihan atau trainning. Metode searah sulit dipungkiri memupus kreatifitas peserta didik dalam mengembangkan corak berpikir bebas. Sekedar contoh, saat SD kita acapkali diberi pertanyaan dimaan kita hanya perlu memberi satu kata sebagai jawaban. Misalnya begini, “Pak Tani disawah sedang…”. Untuk menjawab pertanyaan ini murid SD tidak punya banyak pilihan. Guru secara sepihak akan menyalahkan bila isinya bukan mencangkul, memupuk, atau memanen. Padahal, dalam sistem yang demokratis seorang murid bisa mengisinya dengan misalnya, membaca koran (karena sedang istirahat), melakukan rembug mengenai irigasi dsb.
Sejalan dengan penjelasan Freire mengenai tiga kesadaran sebagai dampak pengadopsian tiga paradigma pendidikan, baik kesadaran magis maupun kesadaran naif begitu kuat mengakar dalam masyarakat kita. Budaya fatalis misalnya, adalah hal umum dan membudaya dikalangan masyarakat terutama jawa. Sifat nrimo ing pandum (menerima jatah atau nasib) tak lepas pula dari model pendidikan selama ini yang justru makin membenamkan semangat inisiatif, inovatif dan kekritisan masyarakat. Atau yang lebih buruk lagi ketika kesadaran naif akibat hegemoni paradigma liberal menjangkiti sebagian besar masyarakat.
Dihadapkan melambungnya biaya menuntut ilmu akibat komersialisasi pendidikan, sedikit banyak orientasi mahasiswa mengalami pergeseran. Atau bisa dikatakan idealisme angkatan muda terjangkit erosi yang membahayakan. Ketika ada tuntutan untuk cepat lulus, baik karena soal biaya maupun standardisasi yang ditetapkan oleh pasar, perhatian mahasiswa sedikit banyak terserap untuk studi. Perhatian terhadap persoalan sosial, lingkungan, dsb., yang nyata dihadapi masyararakat cenderung terabaikan.Dan setelah lulus, orientasi utamanya bukanlah bekerja demi kepentingan umat. Melainkan terjebak dalam pragmatisme pasar, tertanam dalam filosofi liberal yang memerosotkan potensi-potensinya untuk melakukan atau setidaknya berjalan searah dengan kepentingan transformasi sosial. Para ilmuan misalnya, akibat proses pendidikan yang sangat liberal sulit untuk tidak menjadi-meminjam istilah Heru Nugroho-Intelektual ‘asongan’, yang menjajakan pengetahuannya untuk riset maupun pengembangan wacana yang seringkali adalah proyek pemilik modal. Terjebaknya para ilmuan ini memberi kontribusi besar terhadap macetnya ilmu-ilmu sosial dan ketidakmampuannya menjadi bagian dari problem solving dalam masyarakat. Ilmuan tak jarang terjebak dalam studi-studi keilmuan yang sebenarnya disetting oleh ideologi mainstream yang kontra transformasi.Thomas Kuhn bahkan mengatakan bahwa ilmuan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang menemukan kebenaran-kebenaran baru. Mereka lebih mirip para pemecah teka-teki yang bekerja dalam pandangan dunia yang telah mapan. Mereka menjadi sangat sensitif dan kehilangan kearifan dengan mencap kritik terhadap ilmu adalah ‘omong kosong’; serta menggambarkan para pengritik ilmu sebagai para ‘pembual’.
3. Merancang Pendidikan Transformatif
Rangkaian persoalan pelik pendidikan telah menggiring dunia pendidikan kita menuju kerusakan sistemik. Namun bukan berarti menjadi sah bagi kita untuk bersikap apatis. Dan, lagi-lagi kita harus kembali belajar bersama Freire perihal pendidikan yang membebaskan, kritis dan transformatif. Mengurai benang merah yang terlanjur jalin berkelindan tak tentu ujung-pangkalnya, Freire menekankan pentimgmya pengharapan (hope) dan impian (dream), karena mimpi dan harapan memberi kita energi untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Tak ada perubahan tanpa impian, begitu pula tak ada impian tanpa harapan. Hanya saja harapan dan impian harus ditindak lanjuti dengan aktualisasi Ke depan, terbentang pekerjaan rumah yang luar biasa berat. Perubahan baik mengenai kurikulum, perangkat aturan legal, maupun pergeseran paradigma yang sepertinya tidak bisa ditolak jika menginginkan perubahan yang substantif, tidak sekadar ‘kosmetik’ ingin diwujudkan.Pendidikan tidak dapat lepas dari aspek sosial dan pendidikan suatu bangsa adalah cerminan kebudayaannya yang merefleksikan ideology dan filsafat pendidikanya. Oleh karena itu diperlukan paradigmatis pendidikan transformatif, suatu pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan objektif, visioner, dan didasarkan pada falsafah Negara. Dalam hal ini pendidikan dipandang menyatu dengan persoalan sosial yang tengah dihadapi rakyat dan memberi perspektif terhadap problematika masa depan. Dengan demikian pendidikan transformasi adalah pendidikan yang mampu menggerakan transformasi sosial.Azyumardi Azra (2008) mengatakan bahwa pendidikan modern kini yang sudah menjadi konfensional gagal memberikan pandangan dunia yang kosmologis dalam dunia pendidikan. Karena itulah pendidikan moderen lebih pada pengembangang kognisi dari pada rana yang lain. Contohnya, dalam pembelajaran agama dan humaniora sekalipun terjebak pada pengembangan hanya rana kognitif saja dan bukan pada kelekatan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya Asyumardi Azra mengemukakan beberapa usulan sebagai pertimbangan untuk diterapkannya pendidikan transformative: Pertama, pengujian dan perenungan misteri alam raya; kedua, penanaman dan penguatan proses pembuatan makna; Ketiga, penanaman dan pemberdayaan konsep tentang kesatuan dan integrasi alam dengan kemanusiaan; Keempat, penanaman dan penguatan mitos-mitos cultural yang didasarkan pada kepercayaan tentang kapasitas manusia berpartisipasi dalam penciptaan dunia yang berkeadilan, kasih saying, kepedulian, dan kegembiraan; Kelima, penanaman dan pemberdayaan cita ideal tentang masyarakat yang saling berkaitan dalam tradisi demokratis; Keenam, penanaman sikap tanggung jawab untuk mengatasi ketidak adilan dan penindasan.
Dalam penerapanya, ada satu kata kunci yang perlu dipahami dalam Pendidikan transformatif, yaitu ‘perubahan’. Jika hal-hal di atas telah dialami oleh seorang siswa, maka disini saatnya siswa tersebut harus berubah. Apanya yang berubah? Tentu yang berubah adalah sudut pandangnya dalam memandang hal-hal yang telah diketahuinya tersebut. Ia harus mulai lagi memeriksa informasi-informasi yang telah mereka dapat satu persatu, dan memisahkan mana yang sekedar opini dan mana yang benar-benar berupa fakta. Setelah proses menyaring tersebut maka akan didapatkan semua hal-hal yang relevan, dan mulailah ia mempertanyakan Landasan sudut pandangnya terhadap informasi yang relevan tersebut, terutama dikaitkan dengan Asumsi dasar yang telah dipegang mereka.
Bila kita mendaftar apa sebenarnya yang terjadi pada seorang siswa dalam proses transformatif ini terutama dalam bidang Akademik, maka didapat sebagai berikut:
Ø  Memahami kerangka berpikir yang telah digunakan selama ini
Ø  Mempelajari kerangka berpikir alternatif yang lain
Ø  Mentranformasi sudut pandang yang digunakan.agar dapat mengakomodasi kerangka berpikir yang lain tersebut (yang dianggap relevan tentunya)
Ø  Dan akibatnya akan Mentranformasi segala kebiasaan berpikirnya Untuk melakukan hal ini seorang siswa perlu dibantu oleh guru (atau orang tuanya) yaitu dalam melalui proses transformatif yang sangat kritis ini. Tentunya tidak dengan memaksakan kerangka berpikir mereka sendiri kepada siswa tersebut, tetapi membiarkan siswa membangun kerangka berpikirnya sendiri.Proses transformatif ini bisa diajarkan dalam bidang akademis dan di sini tugas seorang guru adalah sebagai berikut:

Ø  Memberikan suatu masalah atau menunjukkan suatu kejadian tertentu yang dapat menyadarkan siswa akan keterbatasan pengetahuan dan pendekatan mereka.
Ø  Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan asumsi-asumsi dasar yang mendasari pengetahuan dan pendekatan yang mereka gunakan.• Mendorong siswa untuk menelaah dari mana asumsi-asumsi ini berasal dan bagaimana asumsi tersebut membatasi pemahaman mereka
Ø  Mendiskusikan apa yang telah mereka telaah kepada guru dan siswa yang lain.
Ø  Memberikan kesempatan kepada mereka untuk menguji perspektif mereka yang telah diperbaharui.Bila siswa telah biasa dengan proses Transformatif dalam bidang akademisnya, maka kemungkinan besar mereka juga akan dapat menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari-harinya terutama dalam melalui perubahan-perubahan dalam tahap kehidupannya dengan sukses.

0 komentar:

Poskan Komentar

Daftar Blog Saya

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More